https://poso.times.co.id/
Berita

Kendala Keterbatasan Ekonomi, 165 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mata

Minggu, 30 November 2025 - 17:15
Kendala Keterbatasan Ekonomi, 165 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mata Tim Dokter PERDAMI melakukan pemeriksaan kesehatan mata kepada siswa SDN 01 Bulak Rukem Surabaya, Minggu (30/11/2025) (Foto: Hamida Soetadji/TIMES Indonesia)

TIMES POSO, SURABAYA – Keterbatasan ekonomi yang dialami orang tua membuat para siswa kesulitan memeriksakan kondisi kesehatan mata lebih lanjut.

Berdasarkan penemuan di SDN 01 Surabaya, beberapa anak menggunakan kaca mata dengan durasi cukup lama. Padahal seharusnya, pergantian kaca mata dilakukan dua tahun sekali setelah melakukan pemeriksaan.

Ada pula yang sudah mengalami gangguan mata tetapi tidak memakai kacamata karena tidak pernah periksa. Adit salah satunya, siswa kelas 6 SDN 01 Bulak Rukem.

Saat ia mencoba membaca huruf pada jarak 10 meter, penglihatannya tidak mampu membaca abjad satu persatu. Ketika memakai kacamata dengan lensa yang sedikit tebal, adit langsung mampu membaca dengan jelas. 

“Adit sebelumnya tidak menggunakan kacamata, saya periksa cukup tebal lensanya, 7 minus mata kanan dan mata kiri,” ujar dokter yang memeriksa mata Adit, Minggu (30/11/2025).

Dokter-PERDAMI-2.jpg

Adit mengaku, penglihatannya kabur ketika melihat jarak jauh. Saat diminta mencoba kacamata dengan ukuran minus 7, ia mengangguk cocok menggunakan kacamata ukuran tersebut.

Sebelumnya, Adit sudah minta periksa kepada orang tuanya, namun hingga sekarang belum diperiksakan. “Sudah lama saya minta ke orang tua, sampai sekarang belum periksa,” ujarnya polos.

Maka, melalui program Baksos Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Minggu (30/11/2025), pemeriksaan mata menyasar para siswa.

Dokter tidak hanya mengganti kaca mata yang sudah usang, melainkan juga melakukan pemeriksaan dari nol. Terutama pada anak-anak yang sebelumnya tidak menggunakan kacamata, diperiksa apakah mereka mengalami gangguan mata atau tidak. 

“Pemeriksaan mata itu setidaknya dua tahun sekali, tadi saya lihat ada yang sampai empat tahun belum ganti sama sekali. Makanya, tadi terlihat penglihatannya tidak tajam,” ujar Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus yang hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Prof dr Budu, Ph.D, Sp.M (K), M.MedEd mengatakan, di Indonesia ada 165 juta anak yang mengalami gangguan mata.

Keterbatasan pemerintah hanya mampu memberikan 1 di antara 4 anak yang mendapatkan kacamata. 

Dokter-PERDAMI-3.jpg

“Data tahun 2026 nanti, akan ada 165 juta anak Indonesia yang mengalami gangguan mata atau rabun mata dan belum mendapat kaca mata seluruhnya. Satu di antara empat anak saja yang sudah menerima pemberian kacamata,” ujar Profesor Budu. 

Kasus rabun mata maupun ganguan mata lainya diperkirakan akan bertambah 200 juta anak Indonesia pada 2050 mendatang. Maka, screening sejak dini penting dilakukan untuk mencegah kerusakan mata pada anak. 

Sementara dalam acara tersebut, tim dokter yang tergabung dalam Baksos PERDAMI diturunkan untuk melakukan pemeriksaan. Mereka langsung mengukur kacamata sesuai hasil pemeriksaan. Jika ada kasus yang lebih serius mereka akan periksa lebih lanjut di ruang pemeriksaan yang sudah disediakan. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Poso just now

Welcome to TIMES Poso

TIMES Poso is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.